Minggu, 25 April 2010

Penyebab Kemiskinan Bangsa Indonesia


Bersyukur dan berbahagialah menjadi bangsa Indonesia. Bangsa yang oleh Allah Swt ditempatkan di negeri yang kaya raya. Tanah yang untuk semua jenis tanaman dapat tumbuh subur. Penuh dengan berbagai barang tambang. Kekayaan hutan yang luar biasa banyak. Laut yang luas dengan berbagai kandungan kekayaan bahari. Belum lagi keindahan alam yang baik untuk pengembangan dunia wisata. Mengingatkan firman Allah Swt:

”Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi, dan Kami adakan di muka bumi (sumber) penghidupan, amat sedikitlah kamu bersyukur,” (QS. Al-A’raf [7]: 10).

Muncul pertanyaan: mengapa bangsa yang berada di negeri kaya raya tersebut, hidup dalam kesulitan dan kemiskinan? Ada beberapa kata kunci untuk menjawab pertanyaan dan mengurai berbagai kejanggalan tersebut, di antaranya:

Pertama, Syukur. Amat sedikit dari bangsa ini yang mau bersyukur atas nikmat pemberian Allah Swt, sebagaimana tersebut dalam surah Al-A’raf ayat 10. karena tidak bersyukur, maka merasa tidak cukup dan serba kurang. Tidak bisa berterimakasih kepada Sang Pemberi, yakni Allah Swt. Menjadi manusia kufur nikmat, bukan syukur nikmat, mengingat firman Allah Swt:

”Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,” (QS. Ibrahim [14]:7).

Kedua, Amanah. Allah Swt menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi.

”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi” maka mereka (malaikat) berkata: ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” (QS. Al-Baqarah [2]:30).

Bangsa Indonesia ternyata tidak dengan baik dapat melaksanakan amanah Allah Swt sebagai khalifah di bumi. Seharusnya bertindak mamayu hayuning bawono, memelihara, menjaga kelestarian. Dan mengelola dengan baik kekayaan alam untuk kesejahteraan. Ajaran untuk banyak berbuat kebaikan sangat ditekankan oleh Islam. Bukan sebaliknya, berbuat kerusakan. ”.....Janganlah merajalela berbuat kerusakan di muka bumi....” (QS. Al-baqarah [2] : 60; Al-A’raaf [7]: 74; Asy-Syu’araa’ [26]: 183).

Ketiga, Berpaling. Semakin banyak yang menjauh dari Allah Swt, berpaling dari peringatan-Nya. Padahal Allah Swt sudah memberi peringatan:

”Dan barang saiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta,” (QS. Thaahaa [20]: 124).

Keempat, Korupsi. Perbuatan korupsi termasuk dilarang, mengacu firman Allah Swt:

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah maha Penyayang kepadamu,” (QS. An-Nisaa’ [4]: 29).

Berkaca pada kisah hancurnya raja Fir’aun beserta para pengikutnya dan bangsa Tsamud atas kuasa Allah Swt sebagaimana antara lain dikemukakan oleh Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Jaamiul Ahkaamul Qur’an atas firman Allah Swt:

”Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang; (yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud? Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan. Padahal, Allah mengepung mereka dari belakang mereka (sehingga tidak seorangpun dari mereka yang dapat lolos),” (QS. Al-Buruuj [85]: 17-20).

Fir’aun beserta pengikutnya ditenggelamkan di laut, bangsa Tsamud musnah oleh bencana gempa bumi. Hal itu semua akibat perbuatan mereka.

Agar bangsa Indonesia tidak mengalami seperti bangsa Tsamud, para pemimpinnya tidak seperti nasib raja Fir’aun beserta pengikutnya, maka perlu kesadaran bersama, melakukan tobat nasional, segenap anak bangsa mau mengakui bahwa telah melakukan kesalahan bersama sebagai bangsa. Para pemimpin bangsa harus mulai dengan memberi contoh. Apabila hal itu yang dilakukan oleh bangsa ini, maka Allah Swt pasti tidak akan ingkar janji sesuai firman-Nya:

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu; maka Kami akan siksa mereka disebabkan perbuatannya,” (QS. Al-A’raf [7]: 96).

Semoga murka Allah Swt segera berakhir, berganti pertolongan-Nya, sehingga bangsa kita dapat segera keluar dari lembah kemiskinan. Amiin.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

 

cHubbY aRea Copyright © 2009 Girlymagz is Designed by Bie Girl Vector by Ipietoon